Sinopsis My Girlfriend is a Gumiho 5

ANDA BERADA DIHALAMAN KELIMA

--> HALAMAN

I 1 I 2 I 3 I 4 I 5 I

=======================

Suara musik latar yang bernuansa horor telah menggaung. Sambil tersenyum simpul dan menatap tajam, Miho merangsek ke arah Dae Woong. Miho terlihat santai dan enjoy, sementara Dae Woong tampak tegang dan mati kutu.
Kini mulut Miho mendekati leher Woong. Untuk apa? Mau menggigitnya seperti Drakula terhadap korbannya?
Tidak. Yang ini lebih sadis.
“Kalau tak ada daging sapi, aku mau memakan kamu,” bisik Miho dengan pelan tapi tegas. Suaranya sudah berubah. Warna suaranya masih sama, tetapi nada bicaranya berbeda. Biasanya, ia menggunakan gaya bicara remaja puteri. Kini gaya komunikasinya seperti wanita dewasa.
Gumiho mau memakan Dae Woong
Mendengar kata-kata tersebut, Dae Woong kian tak berkutik. Apalagi ketika Miho sedikit demi sedikit semakin mendekatkan giginya ke arah kulit leher Dae Woong.
DUONG… DUONG… DUONG…. Suara instrumen musik latar bersuasana horor terus membahana. Dae Woong hanya bisa meringis.
Tiba-tiba Miho mencolek pipi Dae Woong dengan jari telunjuk tangan kirinya. Dae Woong terperanjat setengah mati.
Kini Miho memasukkan jari tersebut ke mulutnya sedalam-dalamnya. Ia mengulumnya dengan penuh penghayatan. Lalu terdengar suara “plup” (suara seperti tutup botol dibuka) ketika jari telunjuk itu dikeluarkannya dari mulutnya.
Sedetik kemudian, Miho berkomentar sambil menyodorkan senyum lebar, “Aahh… Sedaaaap….” Seolah-olah ia baru saja mencicipi makanan lezat yang telah tersaji di hadapannya. Tampak jelas, Miho hendak menyantap Dae Woong hidup-hidup!
Ataukah si wanita cantik ini hanya bergurau? Tidak. Dae Woong yakin, tingkah misterius Miho ini bukan gurauan. Ia tahu, begitulah sisi hewani siluman rubah.
Karena itu, Dae Woong merasa ngeri sekali. Jantungnya seakan mau lepas dari dadanya. Apakah sekarang sudah tiba saat ajalnya? Ataukah ketegangan ini sudah mau berakhir?
Belum. Miho kini mulai bernyanyi. Ia bagaikan seorang guru TK yang sedang memberi contoh nyanyian kepada murid-muridnya. Namun liriknya bukanlah untuk anak-anak. Bahkan bukan pula untuk manusia, berapa pun umurnya. Lagu ini lagu spesial bagi para siluman, vampir, harimau, hantu, dan segala makhluk horor lainnya. Begini nyanyiannya:
“Rubah, Rubah, apa yang sedang kau lakukan?” “Aku sedang makan nasi.” “Lauknya apa?” “Lauknya seorang Dae Woong.” “Apakah dia mati ataukah hidup?” “…….”
Lagu belum selesai, tetapi Miho belum menuntaskannya. Mungkin ia sedang mempertimbangkan, bagaimana sebaiknya kelanjutan dari lagu tersebut.
Inilah puncak ketegangannya. Dae Woong kini telah terpaku bagai tikus mungil yang tersudut dalam cengkeraman kucing raksasa. Sedangkan Miho menyorongkan senyum secara misterius. Apa makna senyuman ini, kita sulit menebaknya. Apakah dia masih ingin mempermainkan korbannya ataukah sudah mau menelannya hidup-hidup?
Sekarang, walau di siang bolong, suasananya sunyi-senyap. Semua makhluk di seluruh dunia drama ini terdiam. Para penonton di rumah pun (termasuk diriku) tak berani bersuara.
Namun kesenyapan ini hanya sesaat. Dua atau tiga detik kemudian, Miho bersorak, “…. Dia hidup!” lalu bertepuk tangan kegirangan. Nada bicaranya telah kembali seperti semula, seperti remaja puteri.
“Dae Woong! Aku harus makan daging sapi supaya tidak menyantap dirimu,” seru Miho dengan ceria sambil berjalan menjauh.
Bahaya maut telah berlalu. Semuanya kembali seperti sediakala. Musik latar pun kini bernuansa drama, tidak lagi bercorak horor. Kita semua sudah boleh menghela napas lega.
Oh, tidak. Tidak semuanya. Seorang Dae Woong belum merasa lega. Ia masih merasakan sisa-sisa ketegangannya.
Dae Woong menaruh telapak tangan kanannya di dada kirinya. Seolah-olah ia memastikan bahwa jantungnya masih menempel di dalamnya. Kemudian dengan nada memelas dan terbata-bata, Dae Woong memberitahu kita:
“Gumiho… yang mau memakan diriku… itu pacarku.”
Dae Woong - My Girlfriend Is A Gumiho
Dengan pemberitahuan begitu, secara tersirat ia mengungkapkan ketakutannya selama ini. Ia sadar, sisi hewani Gumiho tidaklah benar-benar lenyap. Bahaya maut seperti yang baru saja terjadi itu bisa muncul kembali sewaktu-waktu, bahkan tanpa bisa diduga sebelumnya.
Hoi, pembaca!! Gimana kabarmu? Tidakkah kau ikut merasa tercekam saat menyaksikan adegan-adegan menakutkan tadi?
Apa?! Kau tidak ketakutan, tapi malah senyam-senyum dan ketawa-ketiwi?
Oke. Aku mengerti. Drama Gumiho ini memang bukan dimaksudkan sebagai film horor. Unsur komedinya justru lebih terasa.
Namun demikian, alangkah sialnya kita kalau hasil yang kita peroleh dari drama ini hanyalah senyam-senyum dan ketawa-ketiwi. Sebaliknya, alangkah mujurnya kita bila dapat memetik sedikit-banyak pelajaran darinya.
Misalnya, kita dapat mulai merumuskan kembali sifat-sifat apa sajakah yang perlu kita penuhi untuk menjadi manusia seutuhnya. Untuk itu, perlu kita kita sadari bahwa mengenali manakah karakter manusia yang baik dan manakah yang buruk tidaklah semudah memelototi layar kaca.
Sesuatu yang pada mulanya terlihat sempurna bagi kita, bisa saja ternyata mengandung cela yang mengerikan. Sebaliknya, sesuatu yang pada awalnya tampak menyebalkan bagi kita, mungkin saja ternyata ada alasan yang masuk akal di balik itu.
Oleh karena itu, kita perlu lebih mencermati kepribadian manusia, terutama kepribadian diri kita sendiri. Apalagi, kepribadian kita bukanlah sesuatu yang statis sejak kita lahir hingga ajal. Dari waktu ke waktu, kepribadian kita mengalami sedikit-banyak perubahan. Baik yang disengaja maupun tidak disengaja.
Andaikan kita tidak mencermati potensi perubahan ini, bisa-bisa ternyata kita telah berubah menjadi semakin buruk tanpa kita sadari. Itu di satu sisi. Di sisi lain, kita semua berpotensi untuk mengubah kepribadian kita. Dari buruk menjadi baik, dari baik menjadi lebih baik. Alangkah hebatnya kita bila bisa memanfaatkan potensi ini.
Eh, masak kita mau menghebat-hebatkan diri sendiri? Malu dong! Lebih elok kalau kita belajar dari kehebatan orang lain, bahkan bila orang lain itu “hanyalah” karakter fiktif seperti Miho dan Dae Woong dalam drama kita ini. Oke?
Kau tahu, cerita drama kita belum selesai. Kita belum mengerti nasib Miho dan Dae Woong selanjutnya. Apakah hari ini Miho akan mati kelaparan ataukah sudah mampu mengendalikan nafsu hewaninya? Kita belum tahu. Kita pun belum paham apakah Dae Woong akan menderita ketakutan selama-lamanya ataukah berubah menjadi pria pemberani sejati.
Dalam cerita-cerita mendatang, bisa kita saksikan proses perubahan dramatis mereka berdua. Namun supaya kita lebih memahami perubahan kepribadian mereka, kita perlu lebih dulu menyaksikan kilas baliknya. Mari kita mulai dari beberapa jam sebelum mereka berdua kebetulan bertemu untuk pertama kalinya.

HALAMAN

I 1 I 2 I 3 I 4 I 5 I
Previous
Next Post »